Reinkarnasi dan Misteri Dalam Kehidupan Manusia

Berbicara mengenai Reinkarnasi, tidak lepas dari sudut pandang manusia akan keyakinan dan kepercayaan yang di anut oleh masing-masing manusia itu sendiri.

Begitu banyak konsep-konsep akan pemahaman mengenai fenomena reinkarnasi yang dapat kita jumpai. Entah itu bersumber dari konsep pandangan agama, pandangan skeptis, bahkan dari pandangan ilmiah.Untuk itu, izinkan saya mencoba mengajak anda memahami lebih jauh atas fenomena reinkarnasi ini tanpa adanya unsur SARA dalam bentuk apapun.

Reinkarnasi
Reinkarnasi atau t(um)itis, merujuk kepada kepercayaan bahwa seseorang itu akan mati dan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain. Yang dilahirkan itu bukanlah wujud fisik sebagaimana keberadaan kita saat ini. Yang lahir kembali itu adalah jiwa orang tersebut yang kemudian mengambil wujud tertentu sesuai dengan hasil pebuatannya terdahulu.



Banyak yang menyatakan bahwa ajaran reinkarnasi berasal dari negeri Timur: India, Cina, Nusantara. Atau berasal dari agama yang lahir di Timur : Hindu, Budha, Taoisme, dan faham Kebatinan.

Terdapat dua aliran utama yaitu pertama, mereka yang mempercayai bahwa manusia akan terus menerus lahir kembali. Kedua, mereka yang mempercayai bahwa manusia akan berhenti lahir semula pada suatu ketika apabila mereka melakukan kebaikan yang mencukupi atau apabila mendapat kesadaran agung (Nirvana) atau menyatu dengan Tuhan (moksha). Agama Hindu menganut aliran yang kedua.


Reinkarnasi Dalam Kepercayaan Hindu
Kelahiran kembali adalah suatu proses penerusan kelahiran di kehidupan sebelumnya.


Seperti kutipan dari konsep kepercayaan Umat Hindu yaitu ajaran Dharma tentang Karma phala yang berakar dari dua kata yaitu karma dan phala.

Karma berarti perbuatan/aksi, sedangkan phala berarti buah/hasil.
Maka, Karma phala berarti buah dari perbuatan yang telah dilakukan atau yang akan dilakukan.

Karma phala memberi optimisme kepada setiap manusia, bahkan semua makhluk hidup. Dalam ajaran ini, semua perbuatan akan mendatangkan hasil bagi yang berbuat. Apapun yang kita perbuat, seperti itulah hasil yang akan kita terima. Yang menerima adalah yang berbuat, bukan orang lain.

Karma Phala adalah sebuah Hukum Universal bahwa setiap perbuatan akan mendatangkan hasil.

Dalam konsep Hindu, berbuat itu terdiri atas: perbuatan melalui pikiran, perbuatan melalui perkataan, dan perbuatan melalui tingkah laku, Ketiganya lah yang akan mendatangkan hasil bagi yang berbuat. Kalau perbuatannya baik, hasilnya pasti baik, demikian pula sebaliknya.

Karma Phala terbagi atas tiga, yaitu:

1. Sancita Karma Phala (Phala/Hasil yang diterima pada kehidupan sekarang atas perbuatannya di kehidupan sebelumnya)
2. Prarabdha Karma Phala (Karma/Perbuatan yang dilakukan pada kehikupan saat ini dan Phalanya akan diterima pada kehidupan saat ini juga)
3. Kryamana Karma Phala (Karma/Perbuatan yang dilakukan pada kehidupan saat ini, namun Phalanya akan dinikmati pada kehidupan yang akan datang)

Dalam agama Hindu, filsafat reinkarnasi mengajarkan manusia untuk sadar terhadap kebahagiaan yang sebenarnya dan bertanggung jawab terhadap nasib yang sedang diterimanya. Selama manusia terikat pada siklus reinkarnasi, maka hidupnya tidak luput dari duka. Selama jiwa terikat pada hasil perbuatan yang buruk, maka ia akan bereinkarnasi menjadi orang yang selalu duka.

Dalam filsafat agama Hindu, reinkarnasi terjadi karena jiwa harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu. Pada saat manusia hidup, mereka banyak melakukan perbuatan dan selalu membuahkan hasil yang setimpal. Jika manusia tidak sempat menikmati hasil perbuatannya seumur hidup, maka mereka diberi kesempatan untuk menikmatinya pada kehidupan selanjutnya. Maka dari itu, munculah proses reinkarnasi yang bertujuan agar jiwa dapat menikmati hasil perbuatannya yang belum sempat dinikmati. Selain diberi kesempatan menikmati, manusia juga diberi kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya (kualitas).


Jadi, lahir kembali berarti lahir untuk menanggung hasil perbuatan yang sudah dilakukan. Dalam filsafat ini, bisa dikatakan bahwa manusia dapat menentukan baik-buruk nasib yang ditanggungnya pada kehidupan yang selanjutnya. Ajaran ini juga memberi optimisme kepada manusia. Bahwa semua perbuatannya akan mendatangkan hasil, yang akan dinikmatinya sendiri, bukan orang lain.

Yang bisa ber-Inkarnasi itu bukanlah hanya jiwa manusia saja. Semua jiwa mahluk hidup memiliki kesempatan untuk berinkarnasi dengan tujuan sebagaimana di atas (menikmati hasil perbuatannya di masa lalu dan memperbaiki kulaitas hidupnya).


Inkarnasi adalah kelahiran kembali jiwa makhluk hidup dalam satu tubuh yang baru.

Reinkarnasi Dalam Kepercayaan Buddha
Dalam agama Buddha dipercayai bahwa adanya suatu proses kelahiran kembali (Punabbhava). Semua makhluk hidup yang ada di alam semesta ini akan terus menerus mengalami tumimbal lahir selama makhluk tersebut belum mencapai tingkat kesucian Arahat.


Alam kelahiran ditentukan oleh karma makhluk tersebut; bila ia baik akan terlahir di alam bahagia, bila ia jahat ia akan terlahir di alam yang menderitakan. Kelahiran kembali juga dipengaruhi oleh Garuka Kamma yang artinya karma pada detik kematiaannya, bila pada saat ia meninggal dia berpikiran baik maka ia akan lahir di alam yang berbahagia, namun sebaliknya ia akan terlahir di alam yang menderitakan, sehingga segala sesuatu tergantung dari karma masing-masing.

Dalam filsafat Hindu dan Buddha, proses reinkarnasi memberi manusia kesempatan untuk menikmati kebahagiaan yang tertinggi. Hal tersebut terjadi apabila manusia tidak terpengaruh oleh kenikmatan maupun kesengsaraan duniawi sehingga tidak pernah merasakan duka, dan apabila mereka mengerti arti hidup yang sebenarnya.

Kasus-Kasus Yang Disebut-sebut Berhubungan dengan Reinkarnasi
Berikut ini adalah beberapa kasus yang dikatakan berhubungan dengan reinkarnasi yang saya dapatkan dari berbagai sumber di internet.

Kisah Reinkarnasi Pelukis Paul Gauguin
Oleh : dr.Walter Semkiw
From the book : Born Again


Kasus ini adalah reinkarnasi dari salah satu pelukis terkenal yang berasal dari Perancis Paul Gauguin yang berinkarnasi di Belanda pada diri Peter Teekamp.

Cerita Peter Teekamp ini dimulai dari masa kecilnya, ketika kata kata “Go-gone, Go-gone” terus terngiang di benaknya. Perlu waktu beberapa puluh tahun sebelum Peter bisa menghubungkan kata kata ini dengan seniman Paul Gauguin, dan bahkan lebih lama lagi baginya untuk bisa menerima bahwa ia adalah reinkarnasi dari Gauguin. Raut wajah dan kepribadianya juga konsisten. Hal hal yang benar benar menakjubkan adalah analisis sketsa sketsa menunjukkan bahwa Peter Teekamp dalam usia yang lebih muda,tanpa sadar telah mereka ulang perkembangan artistik Gauguin.

Peter Teekamp lahir di Belanda tahun 1950, 47 tahun setelah kematian Gauguin. Ketika berusia 10 tahun, dua suku kata terus muncul dalam benaknya “Go-gone, Go-gone” , Peter kecil tidak menghubungkan pengertian apapun dari kata kata ini sampai ia berumur 15 tahun, ia mulai bertanya apa arti kata ini. Ia bahkan menanyakan pada guru sekolahnya arti kata tersebut, tetapi gurunya tidak mengerti arti kata go-gone tersebut. Peter tidak menyadari bahwa kata Go-gone itu adalah pelafalan fonetik dari Gauguin.


Ketika beranjak remaja, Peter mulai melukis. Yang mengesankan adalah lukisan awal awal Peter menyerupai sketsa sketsa yang dikerjakan oleh Gauguin hampir seratus tahun sebelumnya, meskipun Peter tidak memiliki pengetahuan mengenai sketsa sketsa Gauguin ketika ia melukis. Pada kenyataannya Peter Teekamp tidak mengenal banyak sketsa-sketsa Gauguin seperti diatas, sampai pada tahun 2003, ketika Peter berusia 53 tahun. Dengan Lukisan lukisan pensil ini, Peter sebenarnya telah menggali kembali memori-memori karya seninya dari sebuah masa kehidupan lampau , masa kehidupan Paul Gauguin. Apa yang menarik adalah Peter tanpa sadar mereka ulang karya Gauguin pada usia yang jauh lebih muda ketimbang ketika Gauguin menghasilkan sketsa sketsa ini. Fenomena ini menunjukkan bagaimana dalam setiap masa kehidupan, kita membangun kembali pencapaian-pencapaian dari inkarnasi sebelumnya.

Pada tahun 1972, di usia 22 tahun Peter pindah ke Amerika Serikat kemudian menikah disana dan memiliki 2 anak. Disana ia mengelola toko retail dan mengejar karir sebagai seorang pelukis. Ia ikut dalam pameran pameran seni dan menjual karya karynya. Beberapa kali pula orang orang mendatanginya dengan spontan dan memberitahunya mengenai kehidupan lampaunya. Ada yang mengatakan namanya dulunya adalah Paul, pernah tinggal di Perancis. Peter tidak tahu harus berbuat apa terhadap komentar komentar ini, meski ia bersikap terbuka terhadap reinkarnasi. Akan tetapi sampai awal tahun 70-an dia masih belum memiliki gambaran siapa dia dahulunya dalam kehidupan lampaunya, dan komentar orang mengenai kehidupan lampaunya di Perancis hanya membuatnya merasa lucu dan tidak berarti apa apa.

Segalanya berubah pada tahun 1979, ketika ia berusia 29 tahun. Istrinya, Angela ,mulai mengalami perubahan kepribadian yang drastis, ia menjadi sangat religius. Meskipun Peter pada awalnya menghormati kebutuhan istrinya untuk menjadi lebih spiritual, ia menjadi khawatir gaya hidup istrinya yang penuh pengabdian menjadi berlebihan. Pada suatu hari Angela berkata kepada Peter dengan keyakinan mendalam, “Kamu adalalah reinkarnasi Paul Gauguin”, sebuah pernyataan yang semenjak itu terus diulanginya pada Peter. Desakan istrinya tersebut membuat Peter merenungkan kata “Go-gone, Go-gone” yang menggema di dalam pikirannya semasa kecil. Ia kemudian melihat potret diri Gauguin memiliki karakteristik wajah yang serupa dengannya. Belakangan ia menemukan bahwa Gauguin suka menaruh wajah wajah di latar belakang lukisannya, kadang mencolok, kadang tersembunyi, sebuah praktik yang juga dikembangkan Peter secara spontan. Akan tetapi, masih saja terlalu aneh baginya untuk menerima bahwa ia mungkin adalah Gauguin.

Sampai pada akhirnya ketika ia berumur 30 tahun, Peter mencoba untuk melakukan Past Life Regression . Ia berhasil mengakses memori-memori di sebuah masa kehidupan yang mana dahulunya ia memang seorang pelukis. Pengalaman regresi tersebut begitu kuat dan membuatnya semakin sungguh sungguh mempelajari Gauguin. Apa yang ditemukannya tidaklah ia sukai. Pertama-tama, Peter tidak menyukai gaya melukis Gauguin, yang ia anggap “terlalu kartun, primitif dan tidak rampung.” Di masa kehidupan ini Peter telah mengembangkan sebuah gaya yang lebih realistis. Dalam lukisan lukisannya Peter menunjukkan gaya yang lebih berkembang dari lukisan Gauguin.


Dalam kehidupannya saat ini Peter Teekamp memiliki banyak sinkronisitas dengan kehidupan lampaunya sebagai Paul Gauguin. Banyak peristiwa peristiwa dalam kehidupannya yang menyerupai peristiwa yang dialami Gauguin. Seperti kisah Gauguin yang mencoba bunuh diri akibat depresi, juga dialami Peter ketika ia mengalami beberapa musibah di usia 39 tahun. Keduanya sama sama mencoba untuk bunuh diri meskipun gagal. Juga banyak pola pola yang berulang mengenai hubungan dan konflik yang sama. Gauguin dan Teekamp keduanya sama sama menjalani kehidupan yang stabil pada awalnya, dimana mereka bekerja dalam bisnis konvensional dan menikmati keberhasilan finansial, tetapi mereka berdua meninggalkan keamanan untuk mengejar impian sebagai seniman.

Peter Teekamp berpisah dengan Angela kemudian ia berhubungan dekat dengan Michelle Moshay, seorang penjual kolom iklan yang bekerja di surat kabar lokal di California. Michele ini kemudian diketahui sebagai reinkarnasi dari Mette Gauguin, istri Gauguin di kehidupan lampau. Dalam buku mengenai Gauguin yang pernah dibeli Michelle, Peter melihat gambar di halaman yangmenunjukkan foto Mete Gauguin dan secara spontan ia berseru kepada Michelle, “Lihat, ini kamu” Peter melihat kemiripan istri Gauguin dengan Michelle. Mereka berdua kemudian mencoba menelusuri kehidupan Gauguin dan melihat banyak sekali kemiripan dalam kehidupan mereka yang sekarang.


Peter Teekamp kemudian mencoba mereka ulang lukisan-lukisan Gauguin. Terlihat bahwa kemiripan goresan tangan Peter Teekap dengan Gauguin.


Hmm... Memang mirip, atau hanya kebetulan bisa sama persis ? Bagaimana menurut kalian ?

Kisah Cameron Macaulay



Surat kabar harian Inggris The Sun, tertanggal 8 September 2006, mengungkapkan kisah seorang anak berusia 6 tahun, Cameron Macaulay, yang mengingat kehidupan masa lalunya. Cameron adalah anak laki-laki yang senang menggambar, dia senang menggambar rumahnya – sebuah rumah putih di tepi pantai. Akan tetapi, gambar itu membuat ibu Cameron, Norma (42), gemetar karena rumah itu bukanlah rumahnya, melainkan suatu tempat yang terletak di Pulau Barra – suatu tempat yang terletak 160 mil dari tempat mereka tinggal sekarang – tempat yang belum pernah dikunjunginya.


“Sejak Cameron bisa bicara, dia selalu bercerita tentang bagaimana masa kecilnya di Pulau Barra. Dia bercerita tentang ‘keluarga’-nya, tentang bagaimana ayahnya meninggal, serta tentang saudara laki-laki dan perempuannya. Ini merupakan sebuah pengalaman yang mengherankan,” kata Norma.
Pada awalnya, cerita Cameron ini hanya dianggap sebagai bagian dari imajinasi kanak-kanaknya. Akan tetapi, hal ini terus berlangsung bertahun-tahun. Cameron tak henti-hentinya bercerita tentang Barra, tentang bagaimana ia merindukan ibu dan saudara-saudaranya di sana, tentang bagaimana ia rindu bermain di pantai dekat rumahnya.

“Dia seringkali mengeluh tentang rumah kami yang hanya memiliki satu toilet, sementara di Barra mereka memiliki tiga toilet. Dia sering menangisi ‘ibu’-nya. Dia berkata ‘ibu’-nya akan mengkhawatirkannya dan dia ingin agar ‘keluarga’-nya di Barra tahu bahwa dia baik-baik saja. Ini sangat menyedihkan. Dia tidak bisa dihibur,” jelas Norma. “Dia tidak akan berhenti berbicara tentang Barra, ke mana mereka pergi, apa yang mereka lakukan, dan bagaimana dia biasa melihat pesawat mendarat di pantai dari jendela kamarnya. Dia bahkan berkata bahwa ayahnya bernama Shane Robertson, yang meninggal karena tidak melihat ke dua arah. Saya menduga maksud Cameron adalah tertabrak mobil, tapi dia tidak pernah mengatakannya.”

Pada waktu itu, sebuah perusahaan film sedang mencari orang-orang yang percaya bahwa mereka pernah hidup sebelumnya. Dengan saran seorang teman, Norma menghubungi pihak perusahaan film walaupun harus menghadapi tentangan dari pihak keluarga. Akhirnya, dengan ditemani staf dari perusahaan film dan Dr. Jim Tucker, psikolog anak dari Virginia, perjalanan Cameron mengunjungi lingkungan masa lalunya dimulai.


“Ketika saya memberi tahu Cameron bahwa kami akan pergi ke Barra dia melompat-lompat kegirangan,” ungkap Norma.
“Ketika kami pergi ke pulau dan mendarat di pantai seperti yang pernah digambarkan oleh Cameron, dia berbalik kepadaku dan Martin (kakak Cameron), lalu berkata ‘Now, do you believe me?’.”
“Cameron turun dari pesawat, mengangkat tangannya ke udara dan bersorak ‘I am back!’.”
The Macaulays kemudian memulai pencarian mereka di Pulau Barra – petunjuk untuk mengungkap teka-teki kehidupan masa lalu Cameron.

“Kami menghubungi Heritage Centre dan bertanya apakah mereka pernah mendengar tentang keluarga Robertson yang tinggal di rumah putih tepi pantai. Jawabannya adalah tidak. Cameron sangat kecewa. Kami mengendarai mobil berkeliling pulau, tapi kami tidak menemukan rumah yang dimaksud Cameron. Lalu kami menyadari bahwa jika Cameron melihat pesawat mendarat di pantai melalui jendela kamarnya, kami sedang menuju ke arah yang salah.”

Kemudian The Macaulays menerima panggilan dari hotel tempat mereka menginap, yang memberi tahu bahwa sebuah keluarga yang bernama Robertson pernah memiliki rumah putih di tepi pantai.
“Kami tidak memberi tahu Cameron apapun. Kami hanya berkendara menuju tempat di mana rumah itu katanya berada dan menunggu apa yang akan terjadi nanti.” “Dia segera mengenali rumah itu dan sangat bahagia karenanya.”


“Tapi saat kami berjalan ke pintu, raut wajah Cameron berubah suram dan dia menjadi sangat pendiam. Saya menduga Cameron berpikir bahwa yang terjadi akan tepat seperti apa yang dia ingat, bahwa ‘ibu’-nya akan menunggunya di dalam. Dia terlihat sedih. Tidak ada siapapun di sana. Pemilik sebelumnya telah meninggal, tapi penjaga rumah (keyholder) mengizinkan kami masuk.”

“Cameron mengetahui setiap sudut dan celah rumah tersebut, termasuk tiga toilet yang ada di dalamnya dan pemandangan pantai yang bisa dilihat dari jendela kamarnya. Di kebun, dia membawa kami ke ‘jalan rahasia’ yang telah diceritakannya selama bertahun-tahun.”

Sejak keluarga Macaulay kembali ke rumah mereka di Clydebank, Glasgow, Cameron menjadi jauh lebih tenang. Dia tidak lagi berbicara tentang Barra dengan suatu kerinduan yang mendalam.
“Kami tidak mendapatkan semua jawaban yang kami cari dan nampaknya kenangan kehidupan masa lalu akan memudar seiring bertambahnya usia. Cameron tidak pernah berbicara tentang kematian padaku. Tapi dia memberi tahu temannya agar tidak perlu khawatir tentang kematian: ‘because you just come back again’.”

“Ketika saya bertanya bagaimana dia bisa berakhir bersama saya, dia berkata bahwa dia jatuh dan masuk ke perut saya. Dan ketika saya bertanya siapa namanya sebelumnya, dia berkata: ‘It’s Cameron. It’s still me.’,” kata Norma. “I don’t think we’ll ever get all the answers.”

Kisah Cameron Macaulay ini dibuat menjadi sebuah film dokumenter berjudul “The Boy Who Lived Before” yang ditayangkan di TV 5 pada tanggal 18 September 2006.


Kisah Reinkarnasi Tang Jiangshan
Majalah Femina Dunia Timur dari propinsi Hai Nan – Tiongkok telah memuat sebuah kisah reinkarnasi yang mengharukan, mengkisahkan pengalaman dari Tang Jiangshan dari kecamatan Gan Cheng, kota Dong Fang di timur propinsi Hai Nan.


Tang Jiangshan lahir pada tahun 1976, sewaktu berumur 3 tahun pada suatu hari ia tiba-tiba mengatakan kepada kedua orangtuanya: “Saya bukan anak kalian, pada kehidupan lampau nama saya adalah Chen Mingdao, ayah kehidupan lampauku bernama San Die. Rumah saya di Dan Zhou, dekat laut.” Omongan ini kalau didengar orang lain bagaikan omong kosong, perlu diketahui, Dan Zhou terletak di utara pulau Hai Nan, berjarak 160 km dari kota Dong Fang.

Selain itu Tang Jiangshan mengatakan bahwasanya dirinya dibunuh dengan menggunakan golok dan tombak di dalam aksi kekerasan pada masa revolusi kebudayaan, konon di bagian pinggangnya masih terdapat bekas luka bacok peninggalan kehidupan masa lalu. Yang membuat orang merasa takjub ialah Tang Jiangshan mampu berbicara dialek Dan Zhou dengan sangat fasih. Orang Dan Zhou berbicara bahasa Jun, berbeda sekali dengan dialek Hok Kiannya kota Dong Fang, seorang bocah berumur beberapa tahun bagaimana bisa?



Pada saat Tang Jiangshan berumur 6 tahun, mendesak keluarga membawanya mengunjungi kerabatnya pada kehidupan masa lampau. Keluarganya tidak mau, maka ia mogok makan, akirnya sang ayah menurutinya, dan di bawah pengarahannya berkendaraan menuju tempat dimaksud di desa Huang Yu, kecamatan Xin Ying – kota Dan Zhou. Tang Jiangshan langsung menuju ke hadapan pak tua Chen Zan Ying, menggunakan bahasa Dan Zhou dan memanggilnya “San Die”, mengatakan dirinya bernama Chen Mingdao, adalah putra Chen Zan Ying yang pada masa revolusi besar kebudayaan oleh karena bentrokan fisik sehingga dibinasakan orang. Sesudah meninggal terlahir kembali di kecamatan Gan Cheng – kota Dong Fang, kini datang mencari orang tua kehidupan masa lampaunya.

Mendengar penuturan itu, Chen Zan Ying sejenak tertegun tak tahu bagaimana harus bersikap. Kemudian si anak kecil menunjukkan kamar tidur kehidupan masa lampaunya, dan menghitung satu persatu benda-benda pada kehidupan lampaunya. Menyaksikan semuanya ini dengan kenyataan pada masa lalu sama sekali tidak meleset, pak tua Chen Zan Ying saking terharunya berpelukan menangis dengan Tang Jiangshan dan memastikan ia memang adalah kelahiran kembali anaknya yang bernama Chen Mingdao.

Tang Jiangshan juga telah mengenali kedua kakak perempuan dan kedua adik perempuannya serta para sobat kampung lainnya, bahkan termasuk teman wanita pada kehidupan masa lampaunya: Xie Shuxiang. Semua kejadian ini telah membuat takluk kerabat dan tetangga Chen Mingdao. Sejak saat itu, “Manusia aneh dari 2 masa kehidupan”: Tang Jiangshan memiliki 2 rumah dan 2 pasang orang tua. Ia setiap tahun hilir mudik antara Dong Fang dan Dan Zhou. Si tua Chen Zan Ying beserta keluarga dan orang-orang desa pada menganggap Tang Jiangshan sebagai Chen Mingdao. Oleh karena Chen Zan Ying tidak memiliki putra lainnya, Tang Jiangshan berperan menjadi anaknya dan berbakti hingga tahun 1998 ketika Chen Zan Ying meninggal dunia.

Para petugas bagian editor dari majalah tersebut pada awalnya juga tidak percaya akan hal tersebut, namun melalui pemeriksaan berulang kali dan pembuktian lapangan, mau tak mau juga mengakui kebenaran tentang kejadian tersebut.

Akan tetapi kisah dari Cameron Macaulay dan Tang Jiangshan, diklaim sebagai HOAX belaka dari para kalangan skeptis, sebab tak dapat dibukikan kebenarannya.

Dorothy Eady

Wanita Inggris yang mengalami fenomena reinkarnasi. Fenomena ini sangat menggemparkan Inggris dan Mesir. Satu-satunya manusia yang dilaporkan mengalami reinkarnasi dengan seorang tokoh “biarawati” pelayan kuil Osiris di zaman Firaun Seti I Mesir Kuno dari masa 1320–1200 sebelum Masehi. Ia kemudian dikenali sebagai ‘Omm Sety’ (Ibu Sety, karena anaknya bernama Sety).


Ceritanya.. Saat Dorothy Eady berusia 3 tahun, di London sana, ia mengalami sebuah insiden, ia terjatuh dari lantai atas rumahnya. Ia mengalami koma dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia karena semua organ tubuhnya tidak berfungsi lagi. Tetapi, ketika ia disemayamkan, anak perempuan itu tiba-tiba bangkit kembali dari kematian dalam kondisi segar bugar.

Tak ada yang tahu bahwa pintu dimensi dari masa lalu telah terbuka dan sebuah jiwa dari masa Mesir Kuno menempati tubuh Dorothy kecil yang hampir kaku. Tetapi sejak vonis kematiannya, ia hidup kembali dengan memiliki kepribadian yang berbeda sama sekali dari sebelumnya.


Bocah 3 tahun ini memiliki kepribadian yang jauh lebih dewasa dan selalu bermimpi tentang kuil-kuil Mesir Kuno. Ia selalu bercerita tentang Mesir Kuno, dinasti Firaun Seti I. Ia juga mampu mendeskripsikan kehidupan di sekitar kuil Mesir Kuno seribuan tahun sebelum masehi. Anehnya, ia juga selalu menuntut ayah ibunya untuk memulangkannya ke tempat tinggalnya. Ayah dan ibunya sama sekali tak mengerti maksud putri mereka tentang “pulang ke tempat tinggalnya”. Ia pintar dalam literatur Mesir, mengalahkan para ahli Mesir.

Hanan

Seorang perempuan yang lahir di Libanon di pertengahan tahun 1930an. Suaminya bernama Farouk Mansour. Setelah kelahiran anak kedua, Hanan mendapatkan masalah jantung. Hanan pernah memberitahu suaminya bahwa dia akan terlahir kembali dan menceritakan banyak tentang kehidupan sebelumnya. Pada usia tiga puluh enam, Hanan melakukan perjalanan ke Richmond, Virginia, untuk operasi jantung. Hanan meninggal karena komplikasi sehari setelah operasi.


Sepuluh hari setelah Hanan meninggal, Suzanne Ghanem dilahirkan. Ibu Suzanne menceritakan bahwa sebelum kelahiran Suzanne ia bermimpi akan memiliki anak perempuan. Ia bertemu dengan seorang wanita yang mirip dengan Hanan, mencium dan memeluknya. Wanita itu berkata, “Aku akan datang kepadamu“.
Pada usia 16 bulan, Suzanne bisa menyebutkan semua anggota keluarga Hanan dengan tepat. Ia mengaku bahwa ia mempunyai suami bernama Farouk. Suzanne pun bisa mengidendifikasi semua anggota keluarga Monsour. Ia juga tau rahasia2 Hanan yang tidak diketahui siapa pun.
Farouk akhirnya bisa menerima Suzane sebagai reinkarnasi istrinya. Untuk mendukung kesimpulan ini, Farouk mengatakan bahwa hanya dengan melihat foto, Suzanne dengan akurat mengenali orang-orang yang telah mereka kenal sebelumnya, dan mengetahui informasi lain yang hanya Hanan yang mengetahui. Wajah Suzanne mirip sekali dengan wajah Hanan.


Jendral George S. Patton percaya bahwa dia pernah menjadi prajurit di banyak kehidupan masa lalunya, termasuk pernah berada di bawah pimpinan Alexander the Great.

Benjamin Franklin pernah menyatakan kepercayaannya akan reinkarnasi ketika dia menulis bahwa dia akan kembali “in a new and more elegant edition, revised and corrected by the author.”

Thomas Alva Edison dan Henry Ford menyatakan bahwa mereka adalah believers in past lives.


Reinkarnasi: Antara Fakta dan Keyakinan
Masalah reinkarnasi, sepertinya lebih bisa dipahami atas sudut pandang keyakinan dan kepercayaan dari masing-masing pribadi manusia.

Sebab, sepintar apapun manusia, kita tak dapat begitu saja menyingkap tabir rahasia kehidupan.

Fakta : Saya yakin manusia tidak dapat melakukan percobaan untuk mengetahui kebenaran atas fenomena reinkarnasi. Manusia hanya bisa mengeluarkan pendapat, argumen atau teori - teori yang mungkin bisa digunakan untuk menjelaskan sesuatu, sesuai dengan pemahaman dan kemampuan berpikir yang dimiliki.

Keyakinan : Saya kembalikan semuanya mengenai fenomena reinkarnasi ini, sesuai dengan kepercayaan serta keyakinan kita masing-masing.

Di publikasikan oleh: Ricky Suoth SUMBER INFORMASI DAN TIPS
adalah Artikel yang di Publikasi:
Previous Next Home
Facebook Twitter feed Delicious Digg Favorites More